“Bakmi saja Bu, sayur dipisah”

“Bakmi saja Bu, sayur dipisah”

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi ke sebuah restoran dengan beberapa orang teman. Di sana, saya mengamati sebuah keluarga, Ayah, Ibu, seorang anak perempuan berusia 5-6 tahun, dan seorang pengasuh (baby sitter). Saya tertarik untuk memerhatikan keluarga ini awalnya karena anaknya lucu dan senang berbicara. Dari awal mereka masuk, anak ini terus saja bertanya pada pengasuhnya. Pengasuh tersebut juga terlihat sabar dalam “meladeni” pertanyaan anak ini. Namun, setelah mereka disediakan tempat duduk oleh pelayan restoran, saya mulai merasa tergelitik. Anak perempuan ini berkata: “mbak, duduk di sebelah aku (sambil menunjuk bangku di sebelahnya), mama duduk di sana (menunjuk bangku di seberangnya).” Tidak hanya sampai di sana, ibu tersebut bertanya pada anaknya “kamu mau makan apa?”. Anak diam dan tidak menjawab, akhirnya si ibu bertanya kepada sang pengasuh “mbak, si ade mau makan apa?”, tanpa bertanya pada si anak, sang pengasuh langsung mengatakan “bakmi saja bu, sayur dipisah”.

Apa yang anda rasakan pada saat membaca kisah di atas? Tentu rasanya miris dan sedih bukan? Dan tentunya anda sangat berharap hal ini tidak akan pernah terjadi dalam relasi anda dengan anak bukan? Namun, peristiwa ini riil terjadi dalam kehidupan masyarakat di sekitar kita dan mungkin saja dianggap sebagai hal yang wajar oleh lingkungan kita.

Lingkungan dan zaman yang berubah memberikan dampak yang sangat besar pada pola relasi anak-orang tua. Orang tua dihadapkan pada sebuah dilema yang besar, di satu sisi sangat ingin berusaha untuk memenuhi kebutuhan fisik/material anak namun di sisi lain menghadapi kenyataan bahwa anak juga membutuhkan perhatian dan pendampingan orang tua untuk tumbuh kembangnya. Akibatnya, terciptalah sebuah keadaan di mana orang tua berusaha menyediakan pendamping lain dalam berbagai bentuk (misalnya saja: nanny, gadget, Ipad, game, tv, kursus, atau lainnya), dan tanpa disadari relasi anak dengan orangtua makin pudar dan orang tua makin tidak mengenal anaknya. 

Bonding atau relasi yang dekat antara orang tua dan anak adalah hal yang sangat mendasar. Dr. Henry Cloud dalam bukunya “Changes That Heal” menyatakan bahwa Bonding adalah pondasi dari kehidupan. Bonding adalah dasar bagi pembentukan karakter, moral dan values. Jadi Bonding merupakan dasar dari proses mendidik anak. Dan tanpa relasi (bonding/ikatan) yang dihasilkan, maka kualitas hidup individu yang dihasilkan akan justru menjauh dari karakter yang mulia (noble character). 

Jadi bagaimanakah kualitas relasi atau bonding antara anak dengan Anda sebagai orangtuanya? 

Beloved, let us love one another: for love is of God, and everyone that loveth is born of God and knoweth God.
1 John 4:7 (KJV)

 

Mutiara, S. Psi.
IPEKA Counseling Center

Related News

Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

Negara Republik Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia pada tanggal 1 Juni…

Read More
Memaknai Hari Kenaikan Tuhan Yesus

Hari ini, 25 Mei 2022 umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan kenaikan Isa Almasih.…

Read More
Ayo Bangkit Bersama di Hari Kebangkitan Nasional

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meskipun tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional,…

Read More
Yuk Bangun Budaya Membaca Sejak Dini

Banyak orang berkata bahwa buku adalah jendela dunia. Buku dapat membawa kita kemana saja, karena…

Read More