Eits, tunggu dulu! Jangan terlalu cepat memberi bantuan!

Eits, tunggu dulu! Jangan terlalu cepat memberi bantuan!

“Kita mungkin tidak dapat menyiapkan masa depan bagi anak-anak kita, tapi kita dapat mempersiapkan anak-anak kita untuk masa depan.”
-Franklin D. Roosevelt-

 

Di ruang belajar, seorang anak mengeluh pada ibunya, “Aduh PR-nya banyak banget nih, Ma. Susah semua lagi. Aku nggak mau kerjain lagi ah.” Ibunya menjawab, “Besok kan PR-mu harus dikumpul. Kalau nggak dikerjain, nanti Mama dipanggil lagi sama gurumu. Mama kan malu. Sini Mama yang kerjain aja.”

Sambil menangis, Siska yang duduk di kelas 6 melapor pada ayahnya ketika dijemput “Aku tadi diejek sama Andi. Aku nggak suka sama dia. Aku mau pindah kelas aja, Pa.” Papa Siska menjawab, “Ya sudah, kamu jangan nangis lagi. Besok papa ke sekolah marahin dia. Papa juga akan minta gurumu pindahin kamu ke kelas lain.”

Pernahkah kita menghadapi kondisi demikian, ketika anak kita mengeluh, menangis, atau bahkan melakukan aksi mogok belajar atau mogok sekolah karena ia sedang merasa kesulitan? Lalu apa tanggapan kita sebagai orangtua ketika menghadapi situasi tersebut? 

Setiap orangtua pasti memiliki keinginan untuk bisa memenuhi kebutuhan anak-anaknya. Ketika anak-anak sedang mengalami kesulitan, kita acapkali terdorong untuk secepat mungkin memberikan segala bantuan pada mereka, dengan harapan kita bisa meringankan, bahkan melepaskan mereka dari tekanan dan rasa tidak nyaman akibat masalah yang dihadapinya. Atau seringkali kita merasa malu atau enggan dipusingkan dengan masalah yang berkepanjangan, sehingga kita terdorong untuk langsung mencarikan jalan keluar bagi permasalahan anak kita. 

Sadarkah kita, bahwa intervensi yang kita lakukan dengan cara dan waktu yang tidak tepat untuk menanggapi kesulitan anak-anak kita berdampak pada perkembangan kemandirian dan kemampuan problem solving mereka? Anak-anak yang terlalu cepat memperoleh bantuan akan kehilangan peluang untuk merasakan kesulitan nyata dalam kehidupan. Mereka terbiasa untuk selalu ditolong ketika menghadapi masalah, sehingga tidak terlatih untuk menyelesaikan permasalahannya sendiri. Ketika usianya meningkat dewasa, mereka menjadi pribadi yang kurang matang, sulit menyelesaikan masalah, dan bersikap dependen kepada orang lain karena terbiasa menggantungkan diri pada orangtuanya. 

Kemampuan dan keterampilan seseorang untuk menghadapi kesulitan atau permasalahan hidup bukanlah sesuatu yang diperoleh begitu saja secara instan dan otomatis. Dibutuhkan latihan dan proses yang terus menerus. Ketika anak menghadapi kesulitan, ia sebenarnya sedang beroleh kesempatan untuk melatih kemampuannya dalam hal memecahkan masalah. Ia mengasah kepekaan nalar dan logikanya untuk mencari alternatif solusi yang bisa ditempuh. Ia juga belajar membuat keputusan dan menerima konsekuensi atas keputusan yang diambilnya. Melalui masalah dan kesulitannya, anak belajar mengelola perasaan dan emosinya. Melalui kesulitan yang dihadapi anak-anak kita, Tuhan pun ingin mengajar mereka untuk bertekun, melatih ketahanan dalam menghadapi ujian hidup, dan menyandarkan harapannya kepada Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Roma 5:3-5 yang mengatakan “Dan bukan hanya itu saja. Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita”.

Jadi, jika anak sudah terlatih sejak dini untuk mengatasi kesulitan dan menyandarkan harapannya kepada Tuhan, maka kelak di kemudian hari ia akan menjadi pribadi yang memiliki cakap dalam menghadapi rintangan dan tantangan apapun dan menyandarkan harapannya kepada Tuhan. Mari, kita persiapkan anak-anak kita untuk menjadi pribadi yang tangguh di masa depan. 


IPEKA Counseling Center

Related News


( ! ) Warning: Division by zero in C:\wamp64v3.2.0\www\iics.sch.id-v4\wp-content\themes\iics-themes\template-modules\module-blog-archive\tpl\default.php on line 112
Call Stack
#TimeMemoryFunctionLocation
10.0000440624{main}( )...\index.php:0
20.0000440904require( 'C:\wamp64v3.2.0\www\iics.sch.id-v4\wp-blog-header.php' )...\index.php:17
31.812513802224require_once( 'C:\wamp64v3.2.0\www\iics.sch.id-v4\wp-includes\template-loader.php' )...\wp-blog-header.php:19
41.828113805176include( 'C:\wamp64v3.2.0\www\iics.sch.id-v4\wp-content\themes\iics-themes\single.php' )...\template-loader.php:106
52.000015105704do_shortcode( )...\single.php:29
62.000015109952preg_replace_callback ( )...\shortcodes.php:218
72.000015110728do_shortcode_tag( )...\shortcodes.php:218
82.000015111200ModuleBlogArchive->build_shortcode( )...\shortcodes.php:343
92.000015128176ModuleBlogArchive->get_template( )...\class-module-core.php:216
102.000015129248require( 'C:\wamp64v3.2.0\www\iics.sch.id-v4\wp-content\themes\iics-themes\template-modules\module-blog-archive\tpl\default.php' )...\class-module-core.php:85
INFORMASI PENTING MENGENAI TES SAT 3 Desember 2022

SAT masih menjadi salah satu aspek penting dalam proses penerimaan universitas. Bahkan ketika universitas-universitas AS…

Read More
Yuk, Intip Konferensi Pertama IPEKA Student Council Network (ISCN)!

IPEKA Student Council Network atau ISCN merupakan sebuah wadah kolaborasi dan komunikasi yang bekerjasama dan…

Read More
Murid SMP IICS Kembali Mengikuti Retret Onsite Bertemakan “GROWING”

Usia anak beranjak remaja adalah usia dimana seseorang harusnya dibentuk dengan pola dan nilai-nilai dasar…

Read More
Selamat Hari Batik Nasional 2022, Yuk Simak Sejarahnya!

Hari Batik Nasional adalah hari perayaan nasional di Indonesia untuk memperingati penetapan batik sebagai Warisan…

Read More