It’s a Play Time!

It’s a Play Time!

 “It’s playtime….!”

“Yeeeyyy…!! Asiikkk….!!”

Begitulah kira-kira reaksi dari anak-anak ketika guru ataupun orang tua mengumandangkan waktu bebas untuk bermain. Pada saat anak-anak masih duduk di bangku pra-sekolah (kelas bermain ataupun taman kanak-kanak), rasanya orang tua setuju bahwa dunia mereka adalah dunia bermain. Dengan demikian, hanya sedikit orang tua yang membatasi waktu bermain pada anak-anak. Namun keluhan dan komentar yang cenderung negatif semakin bermunculan ketika anak-anak tersebut memasuki dunia sekolah yang sesungguhnya, khususnya jenjang Sekolah Dasar. 

Memang benar pada jenjang sekolah dasar, tugas perkembangan anak mulai berfokus kepada bidang-bidang akademisi. Anak-anak mulai “dituntut” untuk mulai memahami ilmu pengetahuan dasar dan semakin menguasai keterampilan fundamental seperti membaca, menulis, ataupun berhitung. Pencapaian prestasi anak pun acapkali menjadi sorotan utama orang tua. Bersamaan dengan itu,, jadwal keseharian anak pun mulai dipenuhi dengan tugas-tugas sekolah ataupun pekerjaan rumah demi menambah stimulasi aspek akademis kepada anak. Lantas bagaimana dengan kegiatan bermain? Apakah kegiatan bermain masih diperlukan dan bermanfaat oleh anak? Seringkali orang tua mengeluhkan bahwa anaknya hanya ingin bermain dan menjadi tidak berkonsentrasi ketika belajar, benarkah pandangan tersebut?

Sebelum memberikan jawaban atas pertanyaan tersebut, kita perlu mengetahui dahulu apa yang dimaksud dengan bermain. Berdasarkan kamus bahasa Indonesia, kata bermain memiliki arti melakukan sesuatu untuk bersenang-senang. Tanpa disadari melalui kegiatan bersenang-senang ketika bermain tersebut anak pun belajar banyak hal tergantung dari jenis permainannya. Selain itu, secara alami anak dapat lebih mudah menyerap hal-hal yang dipelajarinya ketika suasana terasa santai dan menyenangkan. 

Permainan dapat dibedakan menjadi beberapa jenis, yaitu dari berdasarkan jumlah pemain (permainan sosial atau individual), aktif atau pasif, permainan fantasi/ peran, dan permainan mengasah otak. Melalui permainan-permainan tersebut, anak mengasah motorik kasar, halus, dan kemampuan kognitifnya, misalnya merencanakan, menganalisa permasalahan, dan memecahkan permasalahan. Kemampuan sosialisasi anak juga terasah melalui permainan berkelompok. Anak mendapatkan kesempatan untuk belajar konsep-konsep sederhana yang penting di awal kehidupannya, misalnya: berbagi dengan teman, bergantian, menunggu dengan sabar, mengelola/mengatur permainan menjadi menyenangkan bagi semua pesertanya, menerima konsekuensi yang menyenangkan atau kurang menyenangkan, dan mengalah/bertoleransi. Hal-hal mendasar tersebut tidak hanya bermanfaat untuk mengasah kemampuan sosialisasi anak, tapi juga baik untuk perkembangan kepribadian anak. 

Berdasarkan penjelasan tersebut, maka diketahui bahwa bermain bukan hanya kegiatan senang-senang tanpa tujuan ataupun tanpa manfaat. Namun demikian, keterbatasan ruang bermain ataupun tata ruang kota yang semakin “modern” membuat fasilitas dan kesempatan anak untuk bermain aktif dan sosial semakin menipis. Permainan anak pun semakin bergeser kepada permainan yang bersifat pasif dan lebih semarak kepada permainan yang menggunakan perangkat elektronik canggih. Permainan elektronik tersebut juga mampu mengasah kemampuan kognitif, wawasan umum, dan motorik halus anak. Akan tetapi permainan tersebut membatasi ruang sosialisasi anak dan mengurangi ruang gerak anak. Selain itu, permainan elektronik acapkali menyajikan stimulus yang sangat banyak dan cepat dalam waktu sekian detik juga cenderung membuat anak kurang konsentrasi dan mudah bosan jika menghadapi tugas-tugas yang ritmenya lebih lambat (misalnya membaca, menulis, menghafal, dll). 

Jadi untuk menjawab pertanyaan yang muncul “apakah anak tetap perlu diberikan waktu untuk bermain?” tentu saja jawabannya adalah iya, anak-anak tetap membutuhkan kegiatan bermain dalam kehidupannya meskipun tugas perkembangannya mulai berfokus pada bidang-bidang akademis. Cara untuk menyiasatinya adalah orang tua dapat membuat jadwal yang proposional antara lama waktu untuk anak belajar/mengulang pelajaran di rumah dengan bermain. Aturlah jadwal sedemikian rupa sehingga keseharian anak tidak hanya dipenuhi dengan kegiatan-kegiatan yang berfokus pada keperluan akademis, namun juga pada kegiatan bermain yang mengasah kemampuan sosialisasi dan perkembangan kepribadiannya. Orang tua juga dapat memperkaya anak dengan permainan-permainan edukatif yang mengasah kemampuan kognitif, kerja sama, dan komunikasi anak (misalnya: bermain sepeda bersama, monopoli, permainan guru-murid, congklak, membaca buku dan bermain teka-teki, dsb). Ketika anak sedang bermain, bimbingan dan partisipasi orang tua juga sangat baik bagi anak. Hubungan anak dengan orang tua dapat semakin akrab dan hangat. Anak juga dapat belajar dari orang tua cara-cara yang lebih strategis dan tepat untuk memecahkan permasalahan. 

Diana, M. Psi.

Related News

Selamat Hari Guru Nasional

Guru seringkali disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Guru memiliki tugas mendidik anak didiknya sehingga mereka…

Read More
Informasi Penting Mengenai Tes SAT 4 Desember 2021

Tes SAT telah lama menjadi bagian penting dari penerimaan universitas, tidak hanya untuk universitas AS…

Read More
Sekolah Kristen IPEKA Gelar ‘INSPIRE’ IPEKA Virtual Education Expo 2021

Sekolah Kristen IPEKA menggelar pameran pendidikan virtual bertajuk ‘INSPIRE’ IPEKA Virtual Education Expo 2021 yang…

Read More
Datang dan Hadirilah INSPIRE – Virtual Education Expo Pertama yang…

Mempersiapkan pendidikan dan masa depan anak membutuhkan perencanaan yang cermat dan matang. Apakah Anda sedang…

Read More