Mengapa Anak Saya Malas Belajar?

Mengapa Anak Saya Malas Belajar?

“Haduuhhh, anak saya malas banget belajar! Gak ada niat belajarnya. Kalau belajar, harus disuruh-suruh dan ditunggui,” ungkap orangtua yang saya temui di dalam ruang konseling. 

Melalui pernyataan tersebut, ada kesan bahwa beberapa anak memiliki motivasi yang tinggi untuk belajar; beberapa anak lainnya tidak memiliki atau kurang motivasi belajar.

Namun, apakah motivasi belajar adalah sesuatu yang dapat dicari, diperoleh, lalu ditambahkan ke dalam diri seorang anak sehingga seolah-olah takaran motivasi belajar seseorang menjadi banyak atau tinggi?

Apabila kita mau menelusuri, sebenarnya sejak kecil anak-anak sudah memiliki motivasi untuk belajar. Misalnya saja, ketika mereka berusia dua tahun dan mulai bermain menjatuhkan bola ke bawah, ini bisa merupakan proses belajarnya anak tentang gravitasi bumi. Anak tidak hanya menjatuhkan bola, tapi juga berbagai jenis benda pun ia coba jatuhkan untuk menguji keabsahan teori gravitasi, yaitu benda apa pun yang dijatuhkan akan turun, ke bawah.

Contoh lainnya, ketika anak berusia empat tahun dan mulai bereksplorasi dengan pensil warna atau krayon. Ia berusaha mencoret-coret untuk meniru gambar atau pola sederhana yang terdapat di dalam buku cerita. Ia mulai menggambar buah apel dengan membuat lingkaran sederhana, lalu mewarnainya dengan warna merah. Hal ini juga termasuk dalam proses belajar yang didasari oleh motivasi dari dalam dirinya sendiri (motivasi intrinsik). 

Demikian pula ketika perbendaharaan kosakata anak mulai bertambah, rasa ingin tahunya soal hal-hal di sekitarnya pun berkembang, lebih luas. Ia tiada henti-henti bertanya mengapa roda berbentuk bulat, ke mana arah perginya matahari ketika malam datang, bagaimana cara pohon dapat berbuah, dan lainnya. Ini pun merupakan wujud motivasinya untuk mencari informasi dan belajar (menguasai) sesuatu. 

Dengan demikian, sejak awal setiap anak sudah memiliki motivasi untuk belajar, mengetahui sesuatu, dan menguasai keterampilan tertentu. Itulah motivasi intrinsik.

Lalu, apa yang membuat motivasi intrinsik ini perlahan-lahan seolah menyusut? Terdapat tiga faktor yang membuat motivasi belajar intrinsik anak menurun, yaitu: respons dari lingkungan sosial, tantangan yang dihadapi oleh anak, dan ganjaran yang ia terima. 

Faktor pertama berkaitan dengan respons-respons dari orang dewasa di sekitar yang kurang mendukung anak ketika sedang mengajukan pertanyaan. Jawaban-jawaban seperti, “Ah, kamu banyak nanya, ya,” “Berisik banget sih, dari tadi bertanya gak ada habisnya,” acap kali membuat anak mengurungkan niat untuk bertanya dan menahan kebutuhannya yang kuat untuk mengetahui berbagai hal yang ada di sekitarnya.

Selain itu, adakalanya anak-anak bertanya dengan cara mengeksplorasi sekelilingnya dengan cara menyentuh dan mengujinya secara langsung. Ia tak banyak berucap, hanya gerakan lincah nan gesitnya yang merambah seluruh sudut ruang untuk mengamati secara mendalam. Saat berhadapan dengan anak tipe ini, berikanlah kesempatan kepada mereka untuk mengeksplorasi sekelilingnya dengan menyentuhnya. Sikap ini dapat memengaruhi semangat dan motivasi anak untuk memenuhi keingintahuannya secara mandiri. Namun, orangtua tetap harus menjauhkan semua benda berbahaya ataupun rapuh (mudah pecah) dari jangkauan mereka. 

Faktor kedua berkaitan dengan tantangan dan tuntutan yang semakin sulit dihadapi oleh anak. Ketika pelajaran terasa semakin sulit, ditambah pula dengan bimbingan yang kurang, anak berpotensi menghadapi kegagalan-kegagalan di dalam proses penguasaan materi atau keterampilan yang sedang ia pelajari.

Jika anak mengalami kegagalan yang berulang-ulang dengan kurangnya alternatif solusi dari orang dewasa di sekitarnya, hal ini cenderung membuat anak frustrasi dan akhirnya menyerah. Tanggapan negatif (kurang menyenangkan) terhadap kegagalan anak akan membuat anak malah semakin frustrasi. Pada akhirnya, anak pun menjadi tidak termotivasi dalam mencoba dan berusaha untuk menghadapi tantangan dari proses penguasaan materi atau keterampilan tertentu. Bahkan, anak pun cenderung menyerah sebelum mencoba.

Dengan demikian, ada baiknya kita berempati terhadap kesulitan dan proses yang tidak mudah bagi anak-anak ketika mereka sedang belajar. Materi yang sedang mereka pelajari terkadang terlihat sederhana dan mudah bagi orang dewasa. Namun, bukankah dulu kita pun pernah mengalaminya, yaitu menghadapi proses untuk menguasai materi ataupun keterampilan tersebut? Di samping berempati, orangtua juga dapat menyemangati dan mendorong anak untuk mencari, mencoba alternatif solusi lainnya dalam menghadapi tantangan dalam pelajaran. 

Faktor ketiga berkaitan dengan aspek ganjaran yang anak terima setelah ia melewati proses belajar. Ganjaran di sini dapat berupa ganjaran yang bersifat menyenangkan (hadiah) ataupun kurang menyenangkan (hukuman).

Saat seorang anak belajar demi menghindari hukuman ataupun demi mendapatkan hadiah, maka motivasi belajar yang ia miliki adalah motivasi yang bersifat ekstrinsik.

Motivasi ekstrinsik ini mengondisikan persepsi anak dalam menyelesaikan tugas bukan berdasarkan keinginannya secara pribadi, melainkan karena faktor eksternal (ganjaran) yang ia peroleh. Anak pun tak lagi fokus terhadap proses, usaha, dan daya juangnya di dalam memahami materi atau menguasai keterampilan tertentu, melainkan terhadap hadiah yang dijanjikan.

Motivasi ekstrinsik dan sistem ganjaran ini tidaklah selalu merupakan atau selamanya hal buruk. Ganjaran (hadiah) dapat saja menjadi pembangkit semangat untuk anak-anak yang memang tidak berminat terhadap bidang-bidang tertentu. Misalnya saja, ketika orangtua hendak mendorong anak untuk termotivasi dengan bidang olahraga yang kurang disukai anak, orangtua dapat mengajaknya bersepeda atau jalan pagi dan menjanjikan akan membuatkan camilan (snaks) yang anak sukai setelah kegiatan olahraga tersebut.

Namun selanjutnya, ganjaran sebaiknya ditujukan pada pemaparan atau penjelasan soal kemajuan kompetensi (penguasaan materi atau keterampilan) yang sudah dicapai oleh anak melalui proses daya juangnya menghadapi tantangan.

Dengan pemaparan kemajuan kompetensi tersebut, perasaan kompeten (kemampuan) anak pun semakin menguat sehingga ia pun lebih percaya diri dan mampu bertahan saat menghadapi kesulitan ataupun tantangan dalam belajar di kemudian hari.

Ganjaran yang positif juga berpusat pada afirmasi terhadap kegigihan anak untuk mendisiplin dirinya sendiri dalam menuntaskan tugas. Ganjaran positif lainnya adalah pujian dan penghargaan yang realistis terhadap usaha anak dalam menghadapi proses belajar. 

Marilah kita menjaga dan memelihara motivasi belajar anak sejak ia masih kanak-kanak. Tunjukkanlah sikap yang positif dan mendukung ketika anak banyak bertanya dan mengeksplorasi sekelilingnya. Orangtua juga perlu berempati dan memberikan dorongan semangat supaya anak berani menghadapi tantangan dan mencoba mengatasi permasalahannya. Perkaya anak dengan berbagai pujian, apresiasi, dan kalimat afirmasi yang mengacu pada ketangguhannya ketika berproses atau berjuang dalam menghadapi tantangan. Berikanlah ganjaran positif, yaitu yang mengacu pada penjelasan tentang kemajuan anak di dalam mencapai kompetensi (pemahaman materi atau penguasaan keterampilan). 

Sumber referensi:

—Diana, M.Psi.
IPEKA Counseling Center

Related News

Selamat Hari Guru Nasional

Guru seringkali disebut pahlawan tanpa tanda jasa. Guru memiliki tugas mendidik anak didiknya sehingga mereka…

Read More
Informasi Penting Mengenai Tes SAT 4 Desember 2021

Tes SAT telah lama menjadi bagian penting dari penerimaan universitas, tidak hanya untuk universitas AS…

Read More
Sekolah Kristen IPEKA Gelar ‘INSPIRE’ IPEKA Virtual Education Expo 2021

Sekolah Kristen IPEKA menggelar pameran pendidikan virtual bertajuk ‘INSPIRE’ IPEKA Virtual Education Expo 2021 yang…

Read More
Datang dan Hadirilah INSPIRE – Virtual Education Expo Pertama yang…

Mempersiapkan pendidikan dan masa depan anak membutuhkan perencanaan yang cermat dan matang. Apakah Anda sedang…

Read More