Membangun Generasi yang Berkarakter dan Berprestasi

Membangun Generasi yang Berkarakter dan Berprestasi

Saat ini orang semakin menyukai hal yang instan. Berbagai bentuk makanan instan dan jasa layanan yang menawarkan kemudahan dan kecepatan berkembang dengan pesat terutama untuk masyarakat perkotaan yang terkenal sibuk dan padat kegiatan.  

Dengan berbagai kemajuan, kita seperti sedang ‘dimanjakan’ dengan berbagai kemudahan. Siswa yang sedang belajar bisa langsung menemukan jawaban persoalannya hanya dengan mengakses internet. Sebagian besar siswa juga ‘dibekali’ guru les yang membantunya belajar atau mengerjakan PR. Orang tua pun kerap kurang sabar terhadap proses dan mengharapkan hasil yang instan dari anak-anaknya. Ketika anaknya tidak termotivasi atau tidak mampu belajar, banyak orang tua langsung menyerahkan pada sekolah, guru les, psikolog, dll dengan harapan pihak-pihak tersebut dapat mengubah anaknya dengan cepat dan prestasi anaknya dapat meningkat. Bahkan ada seorang pernah berkata,“Saya adalah orang ‘hasil’ bukan orang  ‘proses’. Bagi saya yang penting adalah hasilnya, saya gak peduli prosesnya seperti apa.” 

Apakah benar sebuah hasil lebih penting dibandingkan proses pencapaian hasil tersebut? Apakah kita bertujuan semata-mata mengejar suatu hasil tanpa memedulikan proses yang harus dilalui? 

Jika kita memperhatikan cerita-cerita dalam Alkitab, kita akan menemukan bahwa ternyata Allah adalah pribadi yang sangat mementingkan sebuah ‘proses’. Setiap tokoh penting dalam Alkitab yang memiliki peran besar selalu dipersiapkan sebelumnya melalui suatu proses sebelum mereka dapat menjadi pribadi-pribadi yang luar biasa dengan pencapaian prestasi yang juga luar biasa. Contoh yang paling jelas dapat kita temui dalam cerita mengenai Yusuf. Sebelum Yusuf menjadi penguasa Mesir, ia diproses oleh Tuhan. Yusuf dijual, dijadikan budak, difitnah dan dimasukkan dalam penjara. Proses tempaan yang dilakukan Tuhan tersebut membuat Yusuf memiliki karakter yang kuat dan siap memikul tanggung jawab sebagai penguasa Mesir. Selain Yusuf, Musa pun diproses Tuhan selama 40 tahun sebagai gembala di Midian sebelum akhirnya ia dinyatakan siap oleh Tuhan untuk mengemban panggilan melepaskan bangsa Israel dari penindasan Mesir.  

Sebuah kata bijak menyatakan “Success is a journey not a destination - Sukses adalah sebuah perjalanan bukan tujuan akhir.” (Ben Sweeland). Artinya kesuksesan bukanlah prestasi atau hasil tetapi kesuksesan menyangkut semua proses dalam mencapai hasil tersebut. Ketika Thomas Alva Edison mengalami banyak kegagalan pada saat melakukan percobaan membuat bola lampu, ia memandang kegagalannya sebagai bagian dari proses keberhasilannya, seperti yang terlihat dari ungkapannya yang menginspirasi banyak orang “I have not failed. I've just found 10,000 ways that won't work." (Thomas Alva Edison).

Marilah kita menjadi pribadi yang mau berproses. Di jaman yang serba instan, hendaknya kita tidak tergoda untuk mencapai suatu kebehasilan dengan cara yang instan. Marilah kita menjadi pribadi yang bukan hanya sukses di mata manusia tetapi juga sukses di pandangan Allah dengan berproses secara benar dalam mencapai prestasi yang kita inginkan.

Monica, M.Psi., Psikolog

Berita Lainnya

Maximazing Your Child’s Potential

Siapa yang tidak kenal dengan Thomas Alva Edison? Dia adalah salah satu penemu terbesar di…

Baca Lebih Lanjut
IICS adalah Resmi Menjadi Sekolah IB!

Kami ingin mengumumkan bahwa IPEKA Integrated Christian School sekarang resmi menjadi IB World School untuk…

Baca Lebih Lanjut
“Bakmi saja Bu, sayur dipisah”

Beberapa waktu yang lalu, saya pergi ke sebuah restoran dengan beberapa orang teman. Di sana,…

Baca Lebih Lanjut
Mengapa Anda Menjadi Orangtua?

Majalah The Times menuliskan tentang sebuah berita yang menarik terkait seorang wanita yang mengandung di…

Baca Lebih Lanjut