Sudahkah Kita Mempersiapkan Warisan untuk Anak-anak Kita?

Sudahkah Kita Mempersiapkan Warisan untuk Anak-anak Kita?

Warren Buffet, pada tahun 2008, dinobatkan menjadi orang terkaya nomor satu di dunia. Dengan kekayaan yang ia miliki sudah dapat dipastikan hal-hal yang dapat ia miliki serta lakukan. Mari coba kita lihat gaya hidupnya sebagai orang terkaya di dunia:

  • Ia mendonasikan 31 miliar dolar untuk kemanusiaan.
  • Ia tetap tinggal di rumah lamanya, rumah kecil yang dibelinya 50 tahun lalu setelah menikah.
  • Ia menyetir mobil sendiri tanpa sopir dengan mobil lamanya, tanpa pengawal ataupun bodyguard. 
  • Ia tidak pernah menggunakan pesawat jet walaupun memiliki salah satu perusahan jet terbesar.
  • Ia lebih memilih pulang ke rumah setelah bekerja dan makan dirumah. 
  • Ia tidak menggunakan handphone, apalagi membeli model-model terbaru.

Apakah yang ia wariskan bagi anak-anaknya? ia lebih memilih mewariskan sebagaian besar kekayaannya kepada badan sosial daripada ke anak-anaknya. 

Mengapa ia melakukan hal tersebut? 

Bagi Warren Buffet, “Saya memberikan kepada anak-anak saya secukupnya sehingga mereka bisa melakukan segalanya. Saya tidak memberikan mereka terlalu banyak sehingga mereka merasa tidak perlu melakukan apa-apa.”

Bagaimana reaksi anak-anaknya? anak- anaknya rela ketika ayahnya memutuskan untuk mewariskan sebagian besar kekayaannya kepada badan sosial. Hal ini menjadi bukti nyata jika Warren Buffet tidak hanya berhasil membangun dan mewariskan kekayaan secara fisik tetapi berhasil mewariskan nilai-nilai yang benar akan sebuah kesempatan berusaha. 

Terkadang sebagai orangtua kita berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi anak-anak kita agar anak-anak kita bahagia. Itu merupakan sebuah tujuan hidup kita. Namun seringkali kita terjebak dalam pemberian kebahagian itu sendiri dengan pemberian yang berlimpah hingga kita lupa pada memberikan kesempatan bagi anak-anak kita mencicipi proses dalam meraih kebahagiaan itu sendiri. Mereka terbiasa untuk mendapatkan hasil secara mudah. Ketika kita melenyapkan rasa sakit, kemampuan mereka untuk menanggung kesukaran pun melemah.

  • Orangtua perlu membiarkan anak-anak mengalami kegagalan.
  • Orangtua perlu membiarkan anak-anak terjatuh.
  • Orantua perlu membiarkan anak-anak merasa takut.
  • Orangtua perlu membiarkan anak-anak belajar untuk menunggu.
  • Orangtua perlu membiarkan anak menghadapi dan menjalani tugas yang sulit.

Anak-anak harus merasakan bahwa mereka mencapai sesuatu dengan kemampuan mereka sendiri. Anak harus merasa mendapatkan rasa bangga akan prestasi dan usahanya. Keberhargaan diri yang kuat merupakan hasil dari proses sebuah pencapaian bukan hanya sebuah afirmasi. 

Jika kita berani menyediakan ‘proses’ tersebut pada anak sama halnya seperti kita berani berinvestasi untuk kebahagiaan mereka di masa depan. 

“Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu.”
(Amsal 29:17)

Meyske Ameliayana, M.Psi, Psikolog
Resource :
Tim Elmore, 12 Kesalahan yang bisa dihindari orangtua; 2015
Xavier Quentin Pranata, 100 Inspiring Stories; 2012

Related News

Selamat Memperingati Hari Lahir Pancasila

Negara Republik Indonesia memperingati hari lahirnya Pancasila sebagai dasar negara Indonesia pada tanggal 1 Juni…

Read More
Memaknai Hari Kenaikan Tuhan Yesus

Hari ini, 25 Mei 2022 umat Kristiani di seluruh dunia akan merayakan kenaikan Isa Almasih.…

Read More
Ayo Bangkit Bersama di Hari Kebangkitan Nasional

Tanggal 20 Mei diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Meskipun tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional,…

Read More
Yuk Bangun Budaya Membaca Sejak Dini

Banyak orang berkata bahwa buku adalah jendela dunia. Buku dapat membawa kita kemana saja, karena…

Read More